Yinvesto

Edukasi Kecerdasan dan Kemandirian Finansial


Latar belakang dan Motivasi

Setelah 12 tahun menempuh pendidikan dasar sampai SMU di Indonesia dan 6 tahun kuliah S1 dan S2 di Jerman, saya beranggapan bahwa pengetahuan dasar untuk keuangan pribadi saya sudah sangat cukup.

Baru setelah setengah tahun bekerja sebagai professional, mendapat gaji dan menabung, saya baru sadar bahwa pengetahuan finansial saya sangatlah kurang. Terutama dalam hal berinvestasi, menganalisa dan mengenal produk-produk investasi untuk merencanakan hari esok dan hari tua. Di Indonesia, saya melihat dan bertemu banyaknya produk-produk finansial yang tidak transparans, menyesatkan dan merugikan konsumen.

Saat ini saya bekerja sebagai programmer (Software Engineer). Saya bukan pakar ekonomi maupun manager investasi. Saya sudah cukup puas dengan hidup saya. Motivasi saya menulis blog finansial ini bukan untuk menjual produk finansial ataupun untuk mendapatkan 1000 di sosial media. Melainkan saya ingin berbagi pengetahuaan dan bertukar pikiran mengenai praktek investasi pasif dan kemandirian finansial. Dengan memberikan informasi yang mudah dimengerti saya harap website ini dapat membuka kesadaran masyarakat Indonesia.


Realitas

Pola pikir bekerja dan menabung telah ditanamkan sejak dini bagi mereka yang dilahirkan dan besar dari keluar ekonomi menengah di Indonesia. Kata saham atau bermain saham sangat melekat di pikiran masyarakat untuk dijauhi, sedangkan pemikiran untuk memulai suatu bisnis selalu terhadang dengan modal yang kurang. Seperti pola pikir orang awam pada umumnya, di otak kita cuma ada kata "bekerja (cari duit yang banyak) memenuhi kebutuhan hidup menabung". Lalu dari duit tabungan yang ada kita berusaha melipat gandakan, entah melalui deposito atau spekulasi. Tidak kurang mereka yang bahkan tidak bisa menabung. Rangkaian kata-kata ini bisa diputar menjadi roda hamster kehidupan yang selalu berputar ditempat.

Roda hamster

Apabila kita bergerak di roda hamster, bunga deposito tidak akan menolong kita keluar dari roda hamster.
Kok bisa? Ini dikarenakan:

  1. tingginya tingkat inflasi di Indonesia
  2. bunga deposito tidak melebihi tingkat inflasi
  3. tingkat dan kondisi perekonomian Indonesia yang kurang stabil
  4. gaya hidup konsumtif yang sangat tinggi

Selain masalah diatas, banyak sekali produk-produk finansial yang ditawarkan di masyarakat yang merugikan. Dengan alasan tidak mempunyai waktu dan tidak mengerti istilah-istilah di prospek produk finansial, kita hanya percaya omongan orang lain. Pokoknya yang penting tingkat keuntungan tinggi, bunga tinggi, disertai dengan harapan kaya dengan cepat. Hal ini akhirnya menjadi "boomerang" bagi keuangan pribadi kita sendiri.

Untuk itu, disini yinvesto.com mengulas "mindset" (pola pikir) kehidupan, tips praktek finansial, dan investasi pasif.