Saat ini kita telah memasuki bulan Maret 2019. Nah, bagi seluruh masyarakat Indonesia yang bekerja perlu memikirkan tentang pelaporan pajak tahun 2018. Pelaporan pajak tahun 2017 harus dilaporkan paling lambat sampai akhir Maret 2019. Bagi mereka yang masih belum melapor ataupun masih bingung mencari konsultan, Anda bisa membaca rangkuman singkat sistem pelaporan pajak di Indonesia di artikel ini.

Sebelum melaporkan pajak kita, kita harus mengerti tiga jenis Surat Pemberitahuan (atau disingkat SPT) yang ada. Ketiga SPT tersebut adalah:

  1. SPT 1770, yang ditujukan utk pengusaha (wiraswasta) atau pekerja bebas (freelancer)
  2. SPT 1770 S, yang ditujukan utk karyawan dengan pendapatan lebih dari 60 juta rupiah per tahun atau mereka yang mendapat gaji lebih dari satu perusahaan/pemberi kerja.
  3. SPT 1770 SS, yang ditujukan untuk karyawan dengan pendapatan kurang dari 60 juta rupiah per tahun.

Kemudian Anda perlu mempunyai NPWP, apabila tahun ini tahun pertama pelaporan Anda, maka Anda harus segera ke kantor Dirjen Pajak untuk meminta NPWP.

Petunjuk Dasar SPT 1770

Dirjen Pajak telah mengeluarkan dokumen Petunjuk Pengisian SPT 1770, yang bisa didownload dan dibaca dari situs resmi pajak.go.id. Petunjuk ini adalah referensi atau acuan kita dalam mengisi formulir SPT 1770.

Halaman-1

Pada umumnya suami istri mempunyai satu NPWP dan membuat laporan gabungan di SPT satu saja. Anda bisa memilih KK di halaman pertama atas: STATUS KEWAJIBAN PERPAJAKAN SUAMI-ISTRI, apabila pengurusan pajak suami dan istri menjadi satu. Apabila Anda telah bercerai, pilih HB. Pilih MT apabila suami dan istri menjalankan usaha yang berbeda dan mengurus pajak dengan terpisah. Lihat gambar diatas.

Kemudian, cari tahu apakah jenis pekerjaan Anda adalah wajib pajak berdasarkan:

  1. PPh pasal 25, yaitu untuk pekerja bebas atau pengusaha dengan pendapatan lebih dari Rp. 4,8M per tahun.
  2. atau pasal 23 2018 yang mengganti pasal 46 2013, yaitu untuk pengusaha (orang pribadi atau badan yang berbentuk koperasi,persekutuan komanditer, firma, atau perseroan terbatas) yang menerima atau memperoleh penghasilan dari usaha dengan peredaran bruto tidak melebihi Rp 4,8M dalam satu tahun pajak. Peredaran bruto dapat diartikan sebagai omset usaha atau uang yang didapat dari usaha sebelum dipotong biaya-biaya usaha.

Sebelum lanjut membaca, Anda lihat kembali omset usaha Anda. Apakah Anda termasuk jenis omset lebih dari 4,8M atau lebih kecil dari 4,8M (Usaha Mikro Kecil dan Menengah atau UMKM).

SPT 1770 untuk pekerja bebas dan pengusaha dengan omset > 4,8M

Setelah Anda yakin akan pendapatan omset Anda. Kemudian Anda bisa memulai dengan menjabarkan pendapatan perbulan di lampiran halaman 8 (pekerja bebas PP 25). Model perhitungan ini berdasarkan UU PPh pasal 17.

Untuk PP 25, Anda kemudian

  1. mengisi jumlah bruto per tahun di halaman pertama baris 1 (Penghasilan Neto Dalam Negeri Dari Usaha Dan/Atau Pekerjaan Bebas).
  2. Menentukan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP):
    1. TK: tidak kawin : 54 juta rupiah
    2. K : kawin
      • K/0: kawin tanpa anak: 54 + 4,5 juta = 58,5 juta
      • K/1: kawin 1 anak: 54 + 2 * 4,5 = 63 juta
      • K/2: kawin 2 anak: 54 + 3* 4,5 = 67,5 juta
    3. K/I: Kawin dan istri bekerja full time
      • K/I/1: suami istri bekerja dengan 1 anak: K/1 + TK = 63 juta + 54 juta = 227 juta
      • K/I/2: suami istri bekerja dengan 2 anak: K/2 + TK = 67,5 juta + 54 juta = 231,5 juta

SPT 1770 untuk pengusaha kecil dengan omset < 4,8M (UMKM)

Perhitungan pajak untuk pengusaha UMKM dgn omset kurang dari 4,8 Miliar rupiah sangat mudah. Jumlah pajak yang harus dibayar adalah 0,5% dari jumlah pendapatan bruto Anda. Disini Anda tidak perlu mengurus perhitungan dengan PTKP. Informasi lebih lanjut bisa dilihat di situs resmi Dirjen Pajak.

Untuk pajak final berdasarkan PP 23 tahun 2018:

  1. Anda mencentang di halaman 1 - G.Lampiran - kotak k DAFTAR JUMLAH PEREDARAN BRUTO DAN PEMBAYARAN PPh FINAL.
  2. Jabarkan pendapatan bruto Anda di halaman 9 (pengusaha mikro kecil dan menengah (UMKM) atau pajak final berdasarkan PP 23 tahun 2018 (atau versi lama PP 46 2013) ).
  3. mengisi total pendapatan bruto di halaman 5, lampiran ke 3 baris ke 16 (PENGHASILAN LAIN YANG DIKENAKAN PAJAK FINAL DAN/ATAU BERSIFAT Final). Lihat gambar dibawah ini.

Perhitungan pajak dalam kasus ini sangatlah muda, karena Anda membayar pajak dari jumlah omset dikali 0,5%. Akan tetapi, kelemahan dari penghitungan pajak ini adalah bahwa Dirjen Pajak memperhitungan pajak terhadap jumlah pendapatan omset bruto. Jadi, jika Anda merugi, Anda tetap membayar pajak. Di Jerman, Amerika, dan negara-negara maju lainnya, rakyatnya membayar pajak dari jumlah pendapatan bersih (net). Apabila kita melakukan usaha, kita bisa mempunyai omset besar dengan keuntungan kecil. Apabila laba bersih Anda hanya sebesar 0,5% dari omset dikurangi biaya operasional:

Laba = total_omset - biaya_operasional
Laba_dalam_persen = Laba / total_omset * 100%

maka Anda bisa dibilang mempunyai usaha kerja bakti. Usaha ini tidak bisa mencukupi penghidupan Anda.

Perlu dicatat bahwa model perhitungan ini tidak wajib, melainkan opsi pemerintah untuk mempermudah pengurusan pajak bagi pengusaha kecil. Jika Anda, merugi maka sebaiknya Anda menggunakan perhitungan PPh Pasal 17.

SPT 1770 untuk pekerja bebas (freelancer) dengan omset < 4,8M (UMKM)

Yang membedakan antara pengusaha dengan pekerja bebas, adalah bagaimana Anda menghitung penghasilan neto Anda dan Anda sebagai pekerja bebas tidak bisa menggunakan perhitungan pajak final 0,5%. Berhubung kebanyakan pekerja bebas tidak melakukan pembukuan, maka Anda menghitung penhasilan neto dengan Norma Perhitungan Penghasilan neto. Besar persentase perhitungannya bisa dicari di tabel ini. Setelah itu, Anda menulis pendapatan bruto, persentase norma dan hasil neto di SPT 1770 halaman 3 bagian B.

Setelah mendapatkan nilai neto, Anda menghitung pajak (PTKP, PKP) dengan aturan UU PPh pasal 17, seperti di sesi pengusaha dengan omset diatas 4,8M diatas.

Kesimpulan

Kesimpulan diatas bisa saya rangkum di gambar ini: Penggolongan tarif pajak spt 1770

Demikian rangkuman singkat untuk para pengusaha yang akan melaporkan SPT. Semoga artikel ini bisa mempermudah Anda untuk mengerti formulir SPT 1770 untuk pelaporan tahun 2019 ini. Apabila Anda mempunyai hal-hal tambahan lain yang lebih rumit, Anda bisa membaca buku "Petunjuk PengisianFormulir Surat Pemberitahuan" dari Dirjen Pajak setempat.

Catatan: Saya bukan konsultan pajak maupun pegawai pajak. Informasi ini saya berikan setelah saya melakukan beberapa konsultasi dengan konsultan pajak dan mengisi SPT saya sendiri. Saya tidak bertanggung jawab atas perubahan aturan dan kesalahan dalam pelaporan pajak Anda. Apabila Anda menemukan kesalahan di artikel ini, Anda bisa memberitakan ke saya.

Artikel selanjutnya Artikel sebelumnya

Blog Comments powered by Disqus.